Kekerasan Simbolik di Sekolah
RESENSI BUKU PIERRE BOURDIEU
|
Judul Buku
|
Kekerasan Simbolik di Sekolah (Sebuah Ide
Sosiologi Pendidikan Pierre Bourdieu)
|
|
Penulis
|
Nanang Martono
|
|
Editor Bahasa
|
Santi Pratiwi Tri Utami
|
|
Tahun Terbit
|
Oktober 2012
|
|
Kota Terbit
|
Jakarta
|
|
Jumlah Halaman
|
xxviii + 240 hlm, 24 cm
|
|
Penerbit
|
PT RajaGrafindo Persada
|
|
Tanggapan
Terhadap Buku
|
Sebuah tulisan memang tidak lepas dari kelemahan dan kekurangan.
Pertama, metode penelitian analisis isi dan sistematikanya banyak yang
bersifat subjektif, analisisnya lebih banyak berangkat dari perspektif
penulis dalam memaknai sebuah simbol, dalam hal ini adalah memaknai kata,
kalimat dan gambar. Subjektivitas dari penelitian ini dapat dilihat dari pengkategorian
habitus kelas atas dan habitus kelas bawah. Habitus menonton televisi
misalnya, dalam penelitian ini dikategorikan pada habitus kelas atas,
meskipun pada saat sekarang orang miskin pun sudah terbiasa menonton
televisi. Pengkategorian ini sebenarnya didasarkan pada faktor “keumuman”
pada masalah pemilikan barang mewah.
Kedua, penelitian ini sebenarnya secara tidak langsung juga telah
melakukan “kekerasan simbolik”, karena penelitian ini mengandung sebuah
pencitraan yang terlalu menyudutkan salah satu pihak. Penelitian ini telah
memposisikan kelas bawah sebagai orang yang sangat miskin, tidak mampu
mengakses teknologi, dan memiliki rumah yang sangat sederhana, kotor, kumuh.
Ketiga, penelitian ini juga cukup hiperbolis alias berlebihan dalam
memandang dan membedakan sosok orang kaya dan orang miskin.
Tapi buku ini juga cukup bagus karena menyadarkan kepada kita bahwa
ternyata kekerasan simbolik dapat terjadi di dunia pendidikan. Dan sebagai
calon pendidik semoga kelak kita bisa memberikan pemahaman dan pengertian
yang luas kepada peserta didik J
|
BAB I
PENDAHULUAN
Kekerasan merupakan suatu istilah yang tidak
asing kita dengar di telinga kita, dan terkadang ketika mendengar istilah
tersebut, sebagian besar diantara kita akan mengarahkannya pada sebuah
peristiwa yang mengerikan, menakutkan, menyakitkan, atau bahkan mematikan.
Kekerasan juga dinilai sebagai sebuah tindakan yang melanggar HAM (Hak Asasi
Manusia), suatu konsep yang sedang menjadi fokus perhatian kita di bebagai
forum diskusi. Fenomena kekerasan saat ini telah mewarnai hampir seluruh aspek
kehidupan sosial kita baik politik, budaya, bahkan hingga pendidikan. Kekerasan
juga banyak dilakukan atau diambil sebagai jalan pintas dalam upaya menyelesaikan
berbagai persoalan yang terjadi seperti, konflik Pilkada, sidang di DPR,
kegiatan orientasi siswa atau mahasiswa yang diadakan di awal tahun akademik,
menegakkan disiplin di sekolah (atau lembaga lain), banyak yang menggunakan
kekerasan. Bahkan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) saja telah diatur dalam
undang-undang. Ini menunjukkan bahwa masalah kekerasan yang terjadi di sekitar
kita merupakan sebuah masalah yang sangat serius. KDRT merupakan kekerasan yang
menempati posisi teratatas dalam kasus-kasus kekerasan di masyarakat. Kasus
kekerasan berikutnya yang cukup marak ialah kekerasan dalam dunia pendidikan.
Kekerasan atau bullying di sekolah, sering dilegitimasi dengan alasan “menegakkan
kedisiplinan” di kalangan siswa atau mahasiswa. Oleh karena itu kekerasan dapat
dikatakan telah menjadi sebuah budaya dan seolah-olah menjadi mekanisme yang
“dilegalkan”. Namun, banyak pihak yang menyatakan bahwa tindakan kekerasan
tersebu, tidak lebih hanya sebagai wujud “kekesalan” atau pelampiasan kemarahan
oknum tersebut pada orang lain. Orang lain ini dapat berupa siswa, teman, atau
bahkan anak. Banyak alasan yang dinyatakan pelaku kekerasan di sekolah, baik
itu karena si anak bandel, tidak mengerjakan PR, ribut di kelas, membuat onar,
bolos, tidak dapat mengerjakan tugas yang telah diberikan, tidak disiplin, dan
segudang alasan lainnya.
Selain alasan menegakkan disiplin, kekerasan
dalam dunia pendidikan juga dapat terjadi karena motif menunjukkan rasa
solidaritas, proses pencarian identitas atau jati diri, serta kemungkinan
adanya gangguan psikologis dalam diri siswa maupun guru. Misalnya tawuran antar
pelajar dapat dilatarbelakngi karena siswa merasa menjadi satu golongan yang
“membela teman” atau siswa merasa menjadi satu golongan yang “membela
sekolahnya”. Beberapa kasus tawuran antar pelajar bahkan mengakibatkan tewasnya
beberapa pelajar dan bahkan orang lai yang tidak terlibat pun dapat menjadi
sasaran tawuran. Di Indonesia sendiri kasus tawuran antar pelajar sudah terjadi
puluhan bahkan ratusan kali.
Ulasan pada pada bagian diatas merupakan
sebuah uraian mengenai fenomena kekerasan fisik. Kekerasan fisik dan kekerasan
psikologis hanyalah bentuk kekerasan yang wujudnya “mudah dikenali” dan
dampaknya juga mudah untuk diamati. Namun banyak pihak yang tidak menyadari
bahwa adanya bentuk kekrasan lain yang hampir selalu terjadi di sekolah setiap
hari. Bentuk kekerasan tersebut adalah “kekerasan
simbolik”. Bentuk kekerasan ini hampir tidak pernah menjadi perhatian
berbagai pihak, padahal jika diamati, bentuk kekerasan inilah yang memberikan
dampak yang cukup besar, terutama dampak bagi masyarakat secara makro.
Konsep ini dikemukakan oleh Bordieu, seorang
sosiolog dari Perancis. Bourdieu menggunakan konsep ini untuk menjelaskan
mekanisme yang digunakan kelompok elit atau kelompok kelas atas yang
mendominasi struktur sosial masyarakat untuk “memaksakan” ideologi, budaya,
kebiasaan, atau gaya hidupnya kepada kelompok kelas bawah yang didominasinya.
Rangkaian budaya ini oleh Bourdieu disebut juga sebagai habitus. Akibatnya masyarakat kelas bawah, dipaksa untuk menerima,
menjalani, mempraktikkan, dan mengakui bahwa habitus kelas atas merupakan
habitus yang pantas bagi mereka (kelas bawah),sedangkan habitus kelas bawah
merupakan habitus yang sudah selayaknya “dibuang jauh-jauh”. Kekerasan simbolik
sebenarnya jauh lebih kuat daripada kekerasan fisik karena kekerasan simbolik
melekat dalam setiap bentuk tindakan, struktur pengetahuan, struktur kesadaran
individual, serta memaksakan kekuasaan pada tatanan sosial.
Banyak mekanisme atau cara yang digunakan
kelompok kelas atas untuk memaksakan habitusnya, salah satunya melalui lembaga
pendidikan. Mekanisme sosialisasi habitus kelompok atas ini pun dapat dijumpai
dalam berbagai bentuk. Kita dapat melihat bagaimana anak-anak di sekolah diwajibkan
memakai sepatu, seragam, serta berbagai atribut atau cara berpakaian kelompok
atas yang juga harus dilakukan kelompok kelas bawah. Dengan kata lain, siswa
dari kelas bawah dipaksa untuk berbusana “layaknya” kelas atas, mereka dipaksa
menerima habitus kelas atas.
BAB II
PERSPEKTIF SOSIOLOGI MENGENAI PENDIDIKAN
A.
Perspektif dalam Sosiologi
Perspektif ibarat jendela
dalam rumah, melalui jendela kita dapat melihat objek yang berada di luar
rumah. Pemandangan dari satu jendela yang lain akan menghasilkan tampilan yang
berbeda.perspektif menurut Meighan (1981) merupakan ‘’frame of reference,a series or working rules by which a person is
able to make sense of complex and puzzling phenomena’’. Bagi seorang
sosiolog,fenomena merupakan kehidupan asosial dan diadopsi sebagai bagian dari
sikap ataupun penilain terhadap kehidupan sosial.mereka menggunakan seperangkat
asumsi yang dapat digunakan sebagai dasar alat analisis (Martoo, 2010).
Pemikiran ini juga bertujuan untuk :
1.
Melihat manusia,
bagaimana membedakan manusia dengan spesies yang lain.
2.
Melihat
masyarakat, gambaran mengenai keistimewaan struktur yang muncul, berkembang
secara terus-menerus dan mengalami perubahan sebagai konsekuensi tindakan
manusia dalam hubungannya dengan manusia yang lain.
3.
Melihat
interaksi atau hubungan antara manusia dengan masyarakat.
4.
Melihat apa yang
seharusnya diambil sebagai hal yang penting dan menjadi faktor yang mendasar
dalam perilaku manusia serta pengalaman dalam keteraturan sosial.
5.
Melihat apa yang
diketahui atau dipahami sebagai sesuatu hal yang menjadi aspek penyelidikan
kehidupan sosial.
6.
Melihat hubungan
antara penjelasan “akademis” tentang kehidupan sosial dan formulasi kebijakan
yang dapat digunakan secara langsung dalam kegiatan anggota masyarakat setiap
hari (Meighan, 1981).
Perspektif merupakan sebuah cara pandang
seseorang mengenai dunia sosial di sekitarnya atau dapat juga disebut sebagai
sudut pandang. Ibarat sebuah rumah, kita dapat melihatnya dari sisi mana saja,
dari depan, belakang, kanan maupun kiri. Begitu pula sebuah fenomena sosial,
dapat memunculkan berbagai pendapat tergantung siapa yang mengemukakan pendapat
darimana fenomena sosial tersebut dilihat. Permasalahan sosial dapat, dan tentu
saja diintepretasikan dalam cara atau sudut pandang yang berbeda.
Perspektif dalam sosiologi merupakan sebuah
hal yang keberadaannya tidak dapat dihindarkan. Hal ini lebih disebabkan
kelahiran sebuah ilmu tidak terlepas dari hasil pemikiran para tokoh yang
mengawali berbagai pemikiran dalam disiplin tersebut. Setiap tokoh akan
berangkat dari sudut pandang yang berbeda pula, namun adakalanya hasil
pemikiran beberapa tokoh juga menunjukkan beberapa kesamaan. Untuk itu, sebuah
perspektif akan diisi dengan hasil pemikiran atau pendapat beberapa tokoh yang
sama.
B.
Perspektif Struktural Fungsional
Perspektif struktural
fungsional memiliki asumsi utama yaitu melihat masyarakat sebagai sebuah sistem
yang di dalamnya terdapat subsistem. Subsistem tersebt memiliki fungsi
masing-masing yang tidak dapat dipertukarkan satu sama lain. Agar sistem
masyarakat dapat berjalan stabil, maka subsistem tersebut harus selalu ada dan selalu
menjalankan fungsinya masing-masing. Apabila salah satu atau beberapa subsistem
tidak berperan sebagaimana fungsinya, maka sistem tersebut akan hancur atau
masyarakat akan mengalami kekacauan.
Ralp Dahrendorf (1959) mengemukakan
empat asumsi dasar pespektif ini, yaitu : pertama, setiap masyarakat merupakan
suatu struktur unsur yang relatif gigih dan stabil. Masyarakat dipandang
sebagai sebuah bangunan yang statis. Kedua, masyarakat mempunyai struktur unsur
yang terintegrasi dengan baik. Ketiga, setiap unsur dalam masyarakat mempunyai
fungsi, memberikan sumbangan pada terpeliharanya masyarakat sebagai suatu
sistem. Keempat, setiap unsur dalam struktur sosial berfungsi atas dasar
konsensus mengenai nilai di kalangan para anggotanya.
Konsep penting dalam
perspektif ini adalah struktur dan fungsi, yang menunjuk pada dua atau lebih
bagian atau komponen yang berbeda dan terpisah, akan tetapi berhubungan satu
sama lain. Struktur sosial terdiri atas berbagai komponen masyarakat, seperti
kelompok-kelompok, keluarga-keluarga, masyarakat setempat/lokal, dan
sebagainya.
Ada dua penganut utama
perspektif fungsional, yaitu Emil Durkheim dan Talcoltt Parson. Menurut
Durkheim tanpa adanya “unsur kesamaan” maka kerjasama, solidaritas sosial, dan
kehidupan sosial tidaklah mungkin ada. Tugas utama masyarakat adalah mewujudkan
individu menjadi satu-kesatuan. Dengan kata lain ialah menciptakan solidaritas
sosial. Pendidikan dan dalam bagian pengajaran sejarah, menghubungkan antara
individu dan masyarakat. Bila sejarah masyarakat mereka diberikan secara penuh
kepada anak-nak, mereka akan datang untuk melihat bahwa mereka menjadi bagian
dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka akan mengembangkan komitmen
dalam kelompok sosial.
Durkheim berpendapat bahwa
pada masyarakat industri yang kompleks, sekolah menyiapkan fungsi yan tidak
dapat diberikan oleh institusi lain, seperti keluarga atau kelompok sebaya.
Keanggotaan dalam keluarga, didasarkan atas prinsip kekerabatan, keanggotaan
dalam kelompok sebaya, didasarkan atas prinsip pilihan personal. Akan tetapi
keanggotaan dalam masyarakat secara keseluruhan, tidak didasarkan atas
prinsip-prinsip tersebut. sekolah adalah miniatur masyarakat, sebuah model
sistem sosial. Dalam sekolah, siswa harus berinteraksi dengan anggota masyarakat
di sekolah menurut seperangkat peran-peran tertentu. Pengalaman berinteraksi
ini akan menyiapkan siswa untuk berinteraksi dengan anggota masyarakat secara
keseluruhan menurut peran-peran tertentu.
Durkheim menganalisis
perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Baginya perubahan sosial dalam
masyarakat lebih disebabkan karena faktor demografi (kependudukan). Jumlah
penduduk yang semakin padat, memaksa masyarakat melakukan pembagian kerja yang
lebih spesifik, setiap individu akan menempati posisi atau peran-peran tertentu
dalam masyarakat. Durkheim berargumen bahwa dalam hal ini, pendidikan berfungsi
untu memberikan ketrampilan khusus bagi individu, ketrampilan yang dibutuhkan
untuk pekerjaannya di masa mendatang. Fungsi ini merupakan bagian penting dalam
masyarakat industri yang semakin kompleks dan menspesialisasikan pembagian
kerja.
Perspektif ini juga
mengandalkan penjelasan umum akan pentingnya pendidikan dalam masyarakat modern
(Karabel dan Harsey, 1977) yang disebabkan : pertama, syarat-syarat
keterampilan pekerjaan dalam masyarakat industri secara konstan meningkat
karena perubahan teknologi. Kedua pendidikan formal menyediakan pelatihan baik
ketrampilan tertentu atau umum, khususnya bagi ketrampilan pekerjaan yang lebih
tinggi. Ketiga syarat-syarat pendidikan bagi pekerja secara konstan meningkat
dan makin bertambahnya dalam proporsi yang lebih besar atas populasi diperlukan
untuk menghabiskan waktu yang lebih lama di sekolah.
Parson juga memiliki
pemikiran yang sama dengan Durkheim dalam melihat fungsi positif pendidikan dan
sekolah yang juga merupakan miniatur bentuk masyarakat. Bagi Parson, individu
dalam masyarakat menyandang dua status, yaitu yang dinamakan ascribed status
dan achieved status. Berkaitan dengan dua status tersebut, Parson melihat ada
dua jenis nilai yang akan diperoleh individu dalam perkembangannya, yaitu nilai
partikular dan universal. Nilai partikular ini akan diperoleh individu pada
saat bersosialisasi di lingkungan keluarganya, artinya latar belakang keluarga
sangat memengaruhi nilai partikular yang dipelajari individu. Oleh karena itu,
setiap individu akan memperoleh nilai partikular yang berbeda-beda.
Dalam hal ini menurut
Parson, sekolah bertugas menanamkan kepada siswa tentang nilai-nilai yang
sifatnya umum atau disebut dengan nilai universal. Nilai-nilai ini harus
dipelajari individu agar ia dapat hidup dan diterima di tengah-tengah
masyarakat. Nilai-nilai ini tidak dipelajari di lingkungan keluarga. Nilai
universal tersebut misalnya adalah sportivitas, persaingan, kerja sama,
toleransi, kerja keras dan sebagainya.
C.
Perspektif Konflik
Pemikiran perspektif ini justru melihat bahwa
lembaga pendidikan memiliki fungsi yang negatif. Perspektif ini menekankan
adanya perbedaan pada diri individu dalam mendukung suatu sistem sosial.
Menurut perspektif konflik masyarakat terdiri atas individu yang masing-masing
memiliki berbagai kebutuhan yang terbatas. Menurut Dahrendorf (1959) asusmi
utama perspektif ini ada empat, yaitu : pertama, setiap masyarakat tunduk pada
proses perubahan. Kedua, disensus dan konflik terdapat dimana-mana. Ketiga,
setiap unsur masyarakat memberikan sumbangan pada terjadinya disintegrasi dan
perubahan masyarakat. Keempat, setiap masyarakat didasarkan pada paksaan
beberapa orang anggota terhadap anggota lainnya. Dengan kata lain, perubahan
sosial dalam masyarakat, menurut perspektif ini, merupakan sebuah proses yang
tidak dapat dihindarkan. Setiap masyarakat selalu mengalami perubahan, baik
lambat maupun cepat.
Berkaitan dengan lembaga pendidikan, bagi
analisi konflik, pendidikan justru memberikn kontribusi negatif bagi
masyarakat. Perspektif konflik memiliki beberapa asumsi dasar, diantaranya
bahwa setiap unsur dalam sistem sosial memiliki potensi memunculkan konflik
dalam masyarakat. Konflik ini terjadi karena adanya perbedaan kedudukan atau
posisi antar subsistem.
Apabila dikaitkan dengan fungsi pendidikan
sebagai dasar stratifikasi sosial maka pendidikan memberikan kontribusi
terwujudnya sistem stratifikasi sosial yang membentuk pramida. Sistem
stratifikasi ini akan terus berkembang dalam sistem pendidikan yang meluas
secara cepat. Individu dari kelas atas biasanya akan memilih atau memasuki
sekolah-sekolah negeri atau swasta yang mahal dan berkelas. Sebaliknya individu
dari kelas bawah cenderung meninggalkan sekolah lebih awal karena ketiadaan
biaya.
BAB III
IDE TEORITIS BOURDIEU MENGENAI PENDIDIKAN
A.
Riwayat Singkat Bourdieu
Pierre-Felix Bourdieu lahir
di Desa Denguin (Distrik Pyrenees-Atlantiques), di selatan Prancis pada 1
Agustus 1930. Ayahnya adalah seorang petugas pos desa. Ia mendapat pendidikan
SMA di Pau, sebelum pindah ke Lycee Louis-le-Grand
di Paris, dan akhirnya masuk ke Ecole
Normale Superieure pada tahun 1951. Setelah lulus, ia bekerja sebagai guru Lycee di Moulins dari 1955 sampai 1958,
ketika ia bergabung dengan dunia militer dan dikirim ke Aljazair. Pada 1958 ia
menjadi pengajar di Universitas Aljazair.
Selama Perang Aljazair
1958-1962, Bordieu melakukan riset etnografis mengenai benturan dalam masyarakat,
lewat studi mengenai masyarakat Kabyle dari suku Berbers. Penelitian ini
kemudian menjadi landasan bagi reputasinya di bidang antropologi. Hasilnya
adalah buku karya pertamanya, Sociologie
de L’Algerie (The Algerians), yang segera meraih sukses di Prancis dan
diterbitkan di Amerika pada 1962. Pada 1960, ia kembali ke Universitas Paris
untuk mengajar sampai 1964. Bordieu memegang jabatan Direktur Kajian di Ecole Pratique des Hautes Etudes (yang
kemudian menjadi Ecole des Hautes Etudes
en Sciences Sociales), di seksi Vie sejak 1964 dan seterusnya.
Sejak 1981, ia menjabat
ketua jurusan Sosiologi di College de
France, di seksi Vie. Pada tahun 1968, Bourdieu mengambil alih Centre de Sociologie Europeenne, pusat
penelitian yang didirikan oleh Aron, yang dipimpin Bourdieu sampai wafatnya.
Pada 1975, bersama Luc Boltanski, Bourdieu meluncurkan jurnal interdisiplin Actes de la recherchhe en sciences sociales,
yang dengan jurnal tersebut ia berusha mentransformasi kanon-kanon produksi
sosiologis yang sudah diterima seraya menopang kekakuan ilmiah sosiologi. Pada
1993 Bordieu mendapat penghargaan “Medaille
d’or du Centre National de la Recherche Scientifique” (CNRS). Lalu pada
1996, ia menerima Penghargaan Goffman dari University of California, Berkeley,
dan pada 2002, meraih Medali Huxley dari
Royal Anthropological Institute. Bordieu menikahi Marie-Claire Brizard pada
1962 dan memiliki tiga orang putra. Ia meninggal karena kanker pada usia 71
tahun pada 23 Januari 2002.
Bourdieu merupakan
intelektual yang aktif terlibat dalam gerakan-gerakan sosial dan politik. Ia
memberontak melawan mekanisme-mekanisme dominasi sosial dan membela kelompok
yang terpinggirkan dan tertindas. Ia memimpin sebuah komisi yang merefleksikan
mengenai isi pengajaran yang diminta oleh Presiden Francois Mitterand. Ia
mendukung demonstrasi yang dilakukan pada mahasiswa dan siswa SMA untuk
menentang keberadaan seleksi masuk universitas. Pada saat terjadi pemogokan
umum pada tahun 1995, ia ambil bagian dalam ajakan kepada kelompok intelektual
untuk mendukung para pemogok. Ia menandatangani petisi pada Maret 1996 untuk
melakukan pembangkangan sipil melawan hukum Pasqua (menteri dalam negeri) yang
memperkeras legislasi imirasi pada tahun 1998. Bourdieu dalam aksi tersebut,
menunjukkan keberpihakannya pada para penganggur yang menduduki bekas
kampusnya, yaitu Ecole Normale Superiuere
yang terletak di jalan Ulm Paris.
Bourdieu dikenal para
pendidik atas penjelasannya mengenai bagaimana kelompok sosial yang terdidik
menggunakan modal kebudayaan sebagai strategi untuk mempertahankan atau
mendapatkan status dan kehormatan dalam masyarakat. Teori Bourdieu merupakan
teori praktis yang didasarkan pada penelitian-penelitian yang dilakukannya
dengan para sejawatnya di Prancis lebih dari 40 tahun terakhir. Untuk memahami
pemikiran Bordieu kita harus mempertimbangkan dua persoalan pokok yang
berkaitan dengan teorinya. Pertama, teorinya
bersifat epistemologis yang mengarahkan pada suatu cara memikirkan dan memahami
dunia dengan cermat, namun bukan teori positivistik yang berisi konsep-konsep
operasional. Kedua, peneitian
Bourdieu memberikan cara-cara yang penting untuk mempertimbangkan hubungan
antara pendidikan dengan reproduksi dan mekanisme sosial tempat berlangsungnya
inklusi dan ekslusi sosial yang diciptakan dalam medan relasional sebagai fakta
sosiologis serta historis. Bourdieu menggunakan metode-metode yang diserap dari
berbagai disiplin ilmu : dari filsafat dan teori sastra ke sosiologi dan
antropologi. Ia sangat dikenal karena bukunya, Distinction : A Social Critique of the Judgment of Taste, tempat ia
berargumen bahwa penilaian-penilaian selera itu berhubungan dengan posisi
sosial. Buku ini dianggap sebagai salah satu dari 10 buku sosiologi paling
berpengaruh di dunia oleh International
Sociological Association. Bourdieu juga menulis buku Reproduction in Education, Culture and Society (bersama Jean-Claude
Passeron). Buku ini merupakan buku berpengaruh dalam kajian sosiologi
pendidikan sekaligus mengukuhkan corak berpikir sosiologi pendidikan di
Prancis, yang sekaligus mengukuhkan Bourdieu sebagai sosiolog pendidikan yang
sangat berpengaruh di dunia.
B.
Beberapa Konsep Dasar
Bourdieu merupakan salah
satu sosiolog yang pemikirannya cukup sulit untuk dipahami. Pemikirannya banyak
diwarnai konsep yang relatif baru, namun sebenarnya konsep yang digunakan
Bourdieu memiliki makna yang hampir sama dengan konsep yang dikemukakakan
teoritikus lainnya. Selain itu, pemikirannnya banyak diwarnai dengan ide-ide
yang sangat filosofis. Berikut ini beberapa konsep kunci untuk memahami
pemikiran Bourdieu :
1.
Modal
Istilah modal sering dijumpai dalam bidang
ekonomi. Memang konsep ini hampir sama maknanya dengan istilah modal dalam hal
ekonomi. Bedanya ialah dalam bidang ekonomi, modal dimaknai sebagai bentuk
akumulasi dari uang, sedangkan Bourdieu memandang modal secara lebih luas.
Baginya modal modal merupakan sebuah hasil kerja yang terakumulasi dalam bentuk
yang “terbendakan” atau bersifat “menubuh”-terjiwai dalam diri seseorang.
Apabila materi ini dimiliki oleh seorang individu secara privat atau bersifat
eksklusif, maka hal tersebut memungkinkan mereka memiliki energi sosial dalam
bentuk kerja yang diretifikasi maupun yang hidup (Bourdieu, 2004). Atau modal
juga dapat dimaknai sebagai sekumpulan sumber daya (baik materi maupun non
materi) yang dimiliki seseorang atau kelompok tertentu yang dapat digunakan
untuk mencapai tujuan. Modal yang dimiliki seseorang atau kelompok tertentu
akan menentukan posisi mereka dalam struktur sosial.
Bourdieu menyebut istilah modal sosial, modal
budaya, dan modal simbolik. Modal sosial menunjuk pada sekumpulan sumber daya
yang aktual atau potensial yang terkait dengan pemilikan jaringan hubungan
saling mengenal dan atau saling mengakui yang memberi anggotanya dukungan modal
yang dimiliki bersama (Bourdieu, 2004). Hal ini dapat diwujudkan dalam
keanggotaan dalam suatu kelompok yang relatif terikat seperti : keluarga, suku,
sekolah dan sebagainya. Modal budaya merujuk pada seragkaian kemampuan atau
keahlian individu, termasuk didalamnya adalah sikap, cara bertutur kata,
berpenampilan, cara bergaul, dan sebagainya. Modal simbolik merupakan sebuah
bentuk modal yang berasal dari jenis yang lain. Modal simbolik ini misalnya
dapat berupa pemilihan tempat tinggal, atau dapat juga ditunjukkan melalui
tempat wisata untuk mengisi liburan, hobi, tempat makan dan sebaginya.
2.
Kelas
Secara khusus Bourdieu mendefinisikan kelas
sebagai kumpulan agen atau aktor yang menduduki posisi-posisi serupa dan
ditempatkan dalam kondisi serupa serta ditundukkan atau diarahkan pada
pengondisian yang serupa. Pembedaan ini dilakukan secara vertikal. Kelas
memiliki segala kemungkinan untuk memiliki disposisi dan kepentingan yang
serupa, dan karenanya ia memiliki kemungkinan untuk memproduksi praktik dan
megadopsi sikap mental yang serupa. Jadi kelas dimaknai sebagai sebuah individu
yang menempati posisi atau kedudukan yang sama. Oleh karena itu, individu yang
berada pada kedudukan yang sama tersebut akan memiliki sikap mental atau
praktik sosial yang sama.
Menurut Bourdieu setiap kelas memiliki sikap,
selera, kebiasaan, perilaku atau bahkan modal yang berbeda. Perbedaan ini
kemudian menyebabkan munculnya hubungan antar kelas yang tidak seimbang.
Seseorang dapat dengan mudah digolong-golongkan menurut kelasnya hanya dari
budaya atau cara hidup mereka. Konsepsi kelas ini erat kaitannya dengan konsep
modal. Bagaimana masyarakat dapat terbagi ke dalam beberapa kelas, jawabannya
lebih dikarenakan mereka memiliki modal yang tidak sama, sehingga posisi mereka
ditentukan oleh seberapa besar modal yang mereka miliki.
Pertama, kelas dominan yang ditandai oleh pemilikan
modal yang cukup besar. Individu dalam kelas ini mampu mengakumulasi berbagai
modal dan secara jelas ini mampu mengakumulasi berbagai modal dan secara jelas
mampu membedakan dirinya dengan orang lain untuk menunjukkan identitasnya. Kedua, kelas borjuasi kecil. Mereka
diposisikan ke dalam kelas ini karena memiliki kesamaan sifat dengan kaum
borjuasi yaitu mereka memiliki keinginan untuk menaiki tangga sosial, akan
tetapi mereka menempati kelas menengah dalam struktur masyarakat. Ketiga, kelas populer. Kelas ini
merupakan kelas yang hampir tidak memiliki modal, baik modal ekonomi, modal
budaya maupun modal simbolik.
Hubungan ketiga kelas tersebut adalah kelas
dominan hampir selalu memaksakan budayanya, sementara kelas terdominasi tentu
saja akan cenderung menerima budaya kelas dominan. Ketiga kelas tersebut
masing-masing akan berupaya membedakan dirinya dengan kelas lainnya. Praktik
inilah yang kemudian disebut Bourdieu sebagai strategi kekuasaan.
3.
Habitus
Konsep habitus bukanlah konsep yang diciptakan
Bourdieu. Bourdieu hanya memperluas kembali konsep habitus yang dikemukakan
Marcel Mauss. Pada awalnya, habitus diistilahkan dengan hexis kemudian diterjemahkan Thomas Aquinas ke dalam bahasa latin
dengan istilah habitus. Habitus dapat
dirumuskan sebagai sebuah sistem disposisi-disposisi (skema-skema persepsi,
pikiran, dan tindakan yang diperoleh dan bertahan lama). Habitus juga merupakan
gya hidup, nilai-nilai, watak, dan harapan kelompok sosial tertentu.
Konsep habitus juga dapat dimaknai dalam
beberapa hal. Pertama, habitus
sebagai sebuah pengondisian yang dikaitkan dengan syarat-syarat keberadaan
suatu kelas. Kedua, habitus merupakan
hasil ketrampilan yang menjadi tindakan praktis yang kemudian diterjemahkan
menjadi sebuah kemampuan yang kelihatannya alamiah dan berkembang dalam
lingkungan sosial tertentu. Ketiga, habitus merupakan kerangka penafsiran untuk
memahami dan menilai realitas sekaligus menghasilkan praktik-praktik kehidupan
yang sesuai dengan struktur objektif. Keempat,
keberadaan nilai atau norma dalam masyarakat menggarisbawahi bahwa habitus
merupakan sejumlah etos, maksudnya bila menyangkut prinsip-prinsip atau
nilai-nilai yang dipraktikkan, bentuk moral yang diinternalisasikan dan tidak
mengemuka dalam kesadaran, namun mengatur perilaku sehari-hari. Kelima, habitus merupakan struktu
sistem yang selalu berada dalam proses restrukturisasi. Jadi setiap kelas akan
memiliki habitus yang berbeda-beda. Habitus ini pulalah yang kemudian
dipaksakan kelas dominan kepada kelas terdominasi.
4.
Kekerasan dan Kekuasaan
Menurut Bourdieu, kekerasan berada dalam
lingkup kekuasaan. Hal tersebut berarti kekuasaan merupakan pangkal atau hasil
sebuah praktik kekuasaan. Kekerasan muncul sebagai upaya kelas dominan untuk
melanggengkan dominasi atau kekuasaannya dalam struktur sosial. Jadi kekuasaan
dan kekerasan merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Modal simbolik
merupakan media yang mengantarkan hubungan antara kekuasaan dan kekerasan
tersebut. ketika pemilik modal simbolik menggunakan kekuatannya yang lemah,
maka pihak lain tersebut akan berusaha mengubah tindakan-tindakannya. Hal ini
menunjukkan terjadinya kekerasan simbolik melalui peran modal simbolik.
Kekerasan simbolik adalah salah satu konsep
penting dalam ide teoritis Bourdieu. Makna konsep ini terletak pada upaya
aktor-aktor sosial dominan menerapkan suatu makna sosial dan representasi
realitas yang diinternalisasikan kepada aktor lain sebagai sesuatu yang alami
dan absah, bahkan makna sosial tersebut kemudian dianggap benar oleh aktor lain
tersebut. kekerasan ini bahkan tidak dirasakan sebagi sebuah bentuk kekerasan
sehingga dapat berjalan efektif dalam praktik dominasi sosial.
C.
Sekolah sebagai Arena Terjadinya Kekerasan
Simbolik
Pendidikan bagi Bourdieu,
hanyalah sebuah alat untuk mempertahankan eksistensi kelas dominan. Sekolah
pada dasarnya hanya menjalankan proses reproduksi budaya, sebuah mekanisme
sekolah, dalam hubungannya dengan institusi yang lain, untuk membantu
mengabadikan ketidaksetaraan ekonomi antargenerasi.
Sekolah-sekolah menurut
Bourdieu merupakan tempat untuk menyosialisasikan habitus kelas dominan sebagai
jenis habitus yang alami dan memosisikan habitus kelas dominan sebagai
satu-satunya habitus yang tepat dan paling baik serta memperlakukan setiap anak
(siswa) seolah mereka memiliki akses yang sama kepada habitus tersebut.
Bagi Bourdieu peserta didik
dari kelas dominan lebih diuntungkan karena memiliki modal budaya. Mereka
beruntung berkat asal keluarga yang memungkinkan mendapatkan kebiasaan budaya,
latihan-latihan dan sikap yang langsung membuat mereka lebih siap bersaing di
sekolah. Mereka juga mewarisi pengetahuan dan ketrampilan, serta selera yang
sangat mendukung pengembangan budaya yang dituntut oleh sistem pendidikan di
sekolah.
Sebaliknya peserta didik
dari kelas bawah satu-satunya akses budaya luar adalah sekolah. Bagi lapisan
kelas bawah sekolah merupakan bentuk akulturasi budaya. Perilaku di dalam
budaya universitas mengandaikan isi dan modalitas proyek profesional yang
merupakan budaya kelas dominan. Kegiatan ekstrakurikuler di sekolah lebih
banyak menyediakan habitus kelas dominan. Kegiatan les piano atau les-les musik
yang ditawarkan lebih banyak berpihak pada selera, keinginan, kegemaran, atau
bahkan bakat yang dimiliki kelas dominan.
Dengan demikian sekolah
telah menjadi tempat yang paling strategis untuk berlangsungnya praktik-praktik
kekerasan simbolik. Proses ini terjadi secara tidak sadar ketika siswa dari
kelas bawah secara tidak sadar dipaksa untuk menerima semua habitus kelas dominan
melalui misalnya, berbagai peraturan sekolah yang hanya mengakomodasi habitus
kelas dominan, memberikan materi, baik melalui kurikulum formal maupun
kurikulum tersembunyi yang – sekali lagi – tidak pernah disadari siswa kelas
terdominasi : melalui kurikulum, melalui bahasa, melalui kegiatan
ekstrakurikuler, dan mekanisme lainnya.
BAB IV
KEKERASAN SIMBOLIK DALAM KALIMAT
A.
Bahasa sebagai Mekanisme Kekerasan Simbolik
Bahasa merupakan salah satu
alat yang digunakan kelas dominan untuk menjalankan mekanisme kekerasn
simbolik. Bahasa memiliki peran yang sentral dalam mekanisme kekuasaan dan
dominasi, terutama untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya dari sebuah
tindakan, yang dilatarbelakangi karena adanya unsur kekuasaan. Setiap bahasa
(atau teks, tulisan, kalimat) hampir selalu diikuti dengan tujuan yang bersifat
laten. Tentu saja ini merupakan proyek besar kelas dominan untuk
menyebarluaskan dan memaksakan habitusnya kepada kelas yang didominasi – dalam
hal ini kelas yang didominasi tentu saja adalah kelas bawah.
Bahasa merupakan produk
budaya , yang tentu saja tidak dapat dipisahkan dari konteks sosialnya. Bahasa
dapat mencerminkan “siapa penuturnya”. Bahasa mencerminkan pesan, dalam bahasa
Bourdieu, pesan ini dimaknai sebagai simbol. Kelas dominan melalui bahasa,
seolah olah ingin memberitahukan kepada kelas terdominasi “inilah
seleraku”,”inilah habitusku”,”inilah budayaku”. Sementara kelas terdominasi
tidak memiliki akses yang cukup untuk menyuarakan atau menyosialisasikan
habitusnya.
Bahasa merupakan salah satu
atribut manusia yang paling penting. Bourdieu melihat bahwa bahasa tidak hanya
merupakan alat komunikasi dan kapital budaya tetapi juga merupakan praktik
sosial. Bahasa sebagai praktik sosial merupakan hasil interaksi aktif antara
struktur sosial yang objektif dengan habitus linguistik yang dimiliki pelaku
sosial.
Bahasa, disisi lain, tentu
saja menjadi cermin status sosial. Seseorang dapat menunjukkan status sosialnya
melalui bahasa yang digunakannya, termasuk didalamnya adalah pilihan katanya
dan cara pengucapannya. Bahasa mencerminkan budaya, gaya hidup, kebiasaan,
kepemilikan, dan berjuta simbol kelas lain.
B.
Habitus Kelas Dominan dalam Teks BSE
Berikut ini dijelaskan
beberapa contoh bagaimana habitus – kelas dominan digambarkan dan
disosialisasikan dalam dalam BSE
1.
Simbol Istilah Sapaan Anggota Keluarga
![]() |
Cara memanggil, menyebut
atau menyapa anggota keluarga dapat mencerminkan status sosial bagi seseorang
yang menggunakan istilah tersebut. Hal ini dikarenakan setiap keluarga memiliki
budaya yang dapat dikatakan bersifat turun-temurun, termasuk dalam hal
menggunakan istilah untuk memanggil anggota keluarga.
Teks ini ditemukan dalam BSE
Bahasa Indonesia kelas 1. Kata “mama”,”papa”, merupakan istilah yang
menyimbolkan kelas atas.
2.
Aku Suka Tamasya
![]() |
Aktivitas “bertamasya”atau
berlibur ke tempat wisata pada waktu liburan meruoakan sebuah aktivitas dan
menjadi sebuah kebiasaan kelas dominan. Kalimat ini bukan bermakna bahwa kelas
bawah tidak diperbolehkan bertamasya, melainkan kalimat ini bermaksud
menjelaskan bahwa kelas atslah yang lebih sering melakukan aktivitas tamasya
ini
C.
Habitus Kelas Bawah dalam Teks BSE
Sosialisasi mengenai habitus masyarakat kelas
bawah dalam beberapa BSE yang terpilih menjadi sampel dilakukan melalui
beberapa pencitraan atau image mengenai sosok orang kelas bawah.
1.
Inilah Profesiku, Aku Tinggal di Kampung
![]() |
Menurut
Bourdieu, dalam pembagian kelas sosial, petani termasuk di dalam kelompok
masyarakat kelas bawah. Hal inilah yang kemudian mendasari sosok “petani” dalam
beberaoa kutipan berikut dikategorikan dalam mekanisme sosialisasi habitus
kelas bawah melalui BSE
2.
Aku Harus Bekerja Membantu Orang Tuaku
![]() |
Bekerja
sepulang sekolah merupakan sebuah aktivitas yang banyak dilakukan anak dari
kelas bawah. Karena aktivitas tersebut tidak mungkin dilakukan oleh kelas atas.
3.
Permainanku Sangat Sederhana
![]() |
Habitus seseorang juga dapat dilihat dari
jenis permainan yang biasa dimainkan. jika permainan dari kelas atas banyak
menggunkan tekhnologi canggih maka permainan anak anak kelas bawah sangat
sederhana salah satunya yaitu permainan petak umpet.
BAB V
KEKERASAN SIMBOLIK MELALUI GAMBAR
A.
Deskripsi Habitus dalam Gambar Cover
Cover merupakan salah satu
bagian utama dalam sebuah buku yang mampu menarik perhatian pembaca buku.
Demikian halnya dengan BSE. Gambar cover di dalam BSE juga memiliki fungsi yang
sama, sebagai penarik perhatian siswa SD. Gambar cover yang menarik, tentu saja
akan meningkatkan atau menambah motivasi siswa untuk membaca buku tersebut atau
sebaliknya. Cover BSE hampir semuanya berisi gambar-gambar yang bervariasi,
yang menggambarkan berbagai aktivitas atau kegiatan yang sering dilakukan
siswa, baik di rumah maupun di sekolah. Hal tersebut kemudian juga memiliki
implikasi bahwa gambar dalam cover BSE secara tidak langsung juga dapat menjadi
sarana sosialisasi habitus atau kebiasaan kelas tertentu, lebih khusus lagi,
gambar dalam cover dapat menjadi mekanisme kekerasan simbolik melalui BSE.
1.
Habitus Kelas
Atas dalam Cover BSE

2.
Habitus Kelas
Bawah dalam Cover BSE

Temuan pada gambar-gambar cover yang telah
dijelaskan sebelumnya, mengindikasikan bahwa sejak siswa melihat BSE, para
siswa sudah banyak dikenalkan pada habitus kelas atas. Hal ini sangat tidak
menguntungkan siswa dari kelas bawah yang habitus atau kebiasaannya ternyata
sedikit sekali digambarkan sebagai cover BSE.
B.
Deskripsi Habitus dalam Gambar Ilustrasi
Ternyata tak hanya hal itu
strategi kelas atas dalam menyosialisasikan habitusnya adalah pembahasan
mekanisme melalui gambar ilustrasi. Sama halnya dengan hasil penelitian pada
bagian-bagian sebelumnya, gambar ilustrasi juga ternyata juga banyak sekali
menampilkan habitus kelas atas.
Dari hasil penelitian yang
dilakukan diperoleh data bahwa dari sampel sebanyak 108 BSE mengenai proporsi
jumlah halaman yang di dalamnya memuat habitus didalamnya, ternyata terdapat
746 halaman yang menunjukkan habitus kelas tertentu dan 80persen dari 746
halaman dalam BSE tersebut menmpilkangambar ilustrasi mengenai habitus kelas
dominan. Jumlah halaman yang menampilkan kelas habitus kelas bawah dalam BSE
hanya 20 persen saja. Hal ini juga menunjukkan bahwa kelas dominan menggunakan
gambar ilustrasi sebagai mekanisme kekerasan simbolik dalam materi pelajaran
C.
Habitus Kelas Dominan dalam BSE
Uraian berikut menyajikan
dan menjelaskan beberapa gambar ilustrasi yang mencerminkan habitus kelas atas.
Gambar dirinci sesuai tema-tema gambar yang menceritakan hal yang sama.
1.
Rumahku Bersih dan Sehat
Kondisi rumah kelas atas juga turut
disosialisasikan melalui gambar-gambar dalam BSE. Gambar-gambar tersebut
berisikan “pencitraan” mengenai kondisi rumah yang bersi dan sehat. (gambar
terdapat dalam buku BSE Bahasa Indonesia 2c : 107 karya Isriani Hardini, dkk)
2.
Aku Suka Menonton Televisi
Habitus berikutnya yang juga mendominasi
gambar ilustrasi dalam BSE adalah gambar aktivitas menonton televisi. Aktivitas
ini lebih banyak dijumpai pada aktivitas kelas menengah ke atas daripada kelas
bawah (gambar terdapat dalam buku BSE Bahasa Indonesia 1a : 65 karya Mahmud
Fasya, dkk)
3.
Ayahku Bekerja di Kantor
Selain membaca koran dan mencuci mobil, dalam
BSE sosok ayah juga banyak digambarkan bekerja di kntor. Orang yang bekerja di
kantor tentu saja identik dengan orang kaya.
4.
Pesta Ulang Tahunku
“aku selalu merayakan ulang tahun”, itulah
sebuah kutipan yang kebanyakan dilontarkan siswa atau anak dari kelas atas.
Pesta ulang tahun adalah simbol yang sangat jelas menggambarkan habitus kelas
dominan (kelas atas).
D. Habitus kelas
Bawah dalam BSE
Habitus kelas bawah ini
secara kuantitatif jumlahnya tidak sebanyak habitus kelas atas. Jumlah halaman
yang memuat gambar-gambar berhabitus kelas bawah hanya berjumlah 20 persen dari
total halaman yang mengandung habitus, yaitu 746 halaman.
1.
Inilah Pekerjaanku
Pekerjaan
warga kelas bawah yang digambarkan dalam BSE diantaranya adalah : pedagang dan
petani. Petani merupakan jenis pekerjaan kelas bawah yang paling sering
digambarkan dalam BSE. (gambar terdapat dalam BSE IPA 1a : 85 karya Ari Pitoyo,
dkk)
2.
Inilah Aktivitasku Sehari-hari
Kehidupan
atau aktivitas sehari-hari antara orang kaya dan miskin tentu saja berbeda.
“membantu orang tua mencuci pakaian” memang bukanlah kewajiban anak dari kelas
bawah saja, anak dari kelas atas juga. Namun dalam gambar tersebut terdapat
sebuah simbol yang mencirikan sebuah kondisi masyarakat kelas menengah kebawah
karena dalam mencuci hanya menggunakan tenaga manusia (gambar terdapat dalam
BSE IPA 1b : 13 karya Dwi Suhartanti, dkk)
BAB VI
HABITUS DAN DOMINASI KELAS KELAS DALAM BSE
A.
Sekolah Milik Siapa?
Pendidikan dalam istilah
yunani disebut paedagogie yang
berarti “pendidikan”, serta paedagogia
yang berarti “pergaulan dengan anak”. Konsep pendidikan tersebut kemudian dapat
dimaknai sebagai usaha yang dilakukan orang dewasa dalam pergaulannya dengan
anak-anak untuk membimbing atau memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke
arah kedewasaan (Arief, 2005). Secara singkat, pendidikan dapat dirumuskan
sebagai tuntunan pertumbuhan manusia sejak lahir hingga tercapai kedewasaan
jasmani dan rohani, dalam interaksi dengan alam dan lingkungan masyarakatnya.
Pendidikan pada hakikatnya merupakan sebuah upaya mewariskan nilai yang akan
menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan, serta
sekaligus untuk memperbaiki nasi seta peradaban umat manusia. Pendidikan
hakikatnya bertuuan untuk membangun kesadaran kritis bagi peserta didik.
Pendidikan juga dimaknai sebagai prses mengubah perilaku sehingga indikator
keberhasilan proses pedidikan harus dilihat dari sisi perubahan tersebut,
sekecil apapun bentuk perubahan tersebut. perubahan tersebut memang tidak ada
standardisasinya, karena setiap individu itu unik atau berbeda satu dengan yang
lainnya. Pendidikan juga memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan rasa
empati dan simpati kepada sesama manusia dan semua makhluk hidup yang ada di
dunia ini.
Pendidikan dapat ditinjau
dari dua segi yaitu dari segi pandangan masyarakat dan dari segi pandangan
individu. Pendidikan dari segi pandangan masyarakat dapat dimaknai sebagai
proses pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda agsr
kehidupan masyarakat tetap berlanjutan. Atau dengan kata lain, masyarakat mempunyai
nilai-nilai budaya yang ingin disalurkan dari generasi ke generasi agar
identitas masyarakat tersebut tetap terpelihara. Setiap individu memiliki
potensi yang berbeda. Pengembangan potensi individu inilah yang harus menjadi
perhatian utama dalam penyelenggaraan sistem pendidikan
Apabila kita menyimak
temuan-temuan yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya, maka pertanyaannya
adalah “apabila materi pelajaran di skolah sebgian besar mengakomodasi
kehidupan kelas atas, mampukah proses pendidikan tersebut mampu mengembangkan
kesadaran kritis peserta didik?” Nilai-nilai apakah yang akan diwariskan
melalui pendidikan tersebut? Apabila kepentingan kelas bawah sedikit sekali
digambarkan dalam BSE, maka sebenarnya sekolah itu milik siapa? Apakah sekolah
hanya milik kelas atas saja? Hal ini yang perlu mendapat perhatian. Memang
benar, sekolah telah telah melakukan banyak sekali kekerasan simbolik. Bentuk
kekerasan tidak hanya secara verbal namun juga secara nonverbal, melalui
berbagai instrumen yang tidak disadari oleh sebagian besar masyarakat. Yang
lebih memprihatinkan, setiap orang menganggap proses tersebut sebagai sebuah
hal yang biasa biasa saja, sebuah proses yang wajar.
Siswa dari kelas bawah
dipaksa untuk mempelajari berbagai habitus kelas atas. Mereka diajak untuk
melihat kebiasaan orang-orang kaya, setiap hari, setiap saat. Selama tinggal di
sekolah, mereka hanya mampu memikirkan, melamunkan, membayangkan, memimpikan,
mengandaikan, dan mendambakan apa saja yang mereka pelajari di sekolah.
Di sisi lain anak orang kaya
setiap hari disuguhi dengan berbgai kebiasaan yang mereka mainkan setiap saat.
Mereka hampir tidak pernah diajak untuk melihat kehidupan orang-orang miskin
disekitar mereka. Mereka kemudian beranggapan bahwa realitas kehidupan di luar
sana, sama dengan realitas kehidupan yang mereka alami sehari-hari. Mereka
tidak pernah diajak untuk merasakan bagaimana susahnya menjalani kehidupan
sebagai orang miskin yang serba kekurangan. Singkatnya mereka diajak
mempelajari habitus mereka sendiri yang sebenarnya tanpa diajarkan di sekolah
pun, mereka sudah paham.
B.
Kelas Dominan sebagai Subjek
Kekerasan simbolik terjadi
di dalam kelas. Tanpa sadar siswa kelas bawah dijadikan korban dominasi, korban
penindasan kelas atas secara simbolis. Seringkali mereka (siswa kelas bawah)
tidak sadar ketika mereka sebenarnya hanya menjadi objek, menjadi bahan
tontonan dan hiburan, menjadi bahan olokan atau ejekan, dan menjadi objek belas
kasihan kelas dominan. Sebagai contoh : gambar atau cerita mengenai petani, sedikit
sekali diceritakan dari sudut pandang orang pertama, petani hampir selalu
diposisikan sebagai “orang ketiga” misalnya : “pak tani membajak sawah dengan
kerbau”.
Sebenarnya, susunan atau
substansi materi pelajaran tidak mengandung permasalahan. Masalah justru muncul
pada cara menyampaikan materi tersebut serta dalam mengambil berbagai contoh
yang digunakan untuk memperjelas materi pelajaran. Dominasi kelas yang dimuat
dalam BSE menujukkan bahwa substansi materi pelajaran mengandung tiga bentu
bias sosial yaitu yang pertama bias
kelas atas. Bias kelas atas ini menunjukkan bahwa sebagian besar materi yang
disajikan dalam BSE berangkat dari sudut pandang orang kaya. Kedua bias masyarakat kota. Sebagian
besar dalam buku BSE menggambarkan aktivitas atau kondisi orang kota seperti
rekreasi. Ketiga bias wilayah
pesisir. Pada deskripsi mengenai kondisi ruang di rumah, ruang makan selalu
digambarkan ada lemari es (kulkas). Hal tersebut merupakan biaswilayah pesisir
karena orang yang tinggal di wilayah pegunungan yang berhawa dingin tentu saja
tidak memerlukan kulkas.
Menurut pandangan teoritikus
poskolonial, kelas bawah dalam praktik sosial sehari-hari memang selalu menjadi
pihak yang didominasi. Mereka selamanya diposisikan sebagai objek, bukan
subjek. Berbagai kekurangan yang ada dalam diri mereka (orang miskin) akan sulit
untuk mengangkat posisi mereka.
Memang sangat sulit untuk
menyajikan sebuah materi ajar yang benar-benar netral. Akan tetapi, satu hal
yang dapat dilakukan adalah dengan meminimalisasi materi ajar yang mengandung
berbagai bias tersebut. Hal lain yang dilakukan adalah dengan memerhatikan
materi ajar yang lebih proporsional, sehingga mampu mengakomodasi berbagai
latar belakang sosial siswa sebagai pengguna BSE.
C.
Kapitalisasi Gaya Baru
Selain dominasi kelas
(dominan) keberadaan habitus yang sangat bias dalam BSE juga mengindikasikan
peran serta kaum kapitaslis untuk meluaskan kekuasaannya. Bagaimana hal ini
dapat terjadi? Sebagaimana kita ketahui bahwa kaum kapitalis lebih banyak
diduduki kelas atas.oleh karena itu,keberadaan habitus kelas atas yang
mendominasi BSE secara tidak langsung juga merepresentasikan budaya dan
abitus-lebh tepatnya adalah kepentingan-kelompok kapitalis. Sebagai contoh
adegan menonton televisi. Dalam televisi hampir semua sinetron hanya
menampilkan gaya hidup kelas atas yang glamour, mewah, modern, dan mahal.
Berwisata ke kebun binatang, atribut bekerja menggunakan dasi, budaya pesta
ulang tahun juga bias kapitalis.
Hal inilah yang kemudian
disebut sebagai kapitalisasi gaya baru. Disaat sebagian besar pihak memprotes
kapitalisasi pendidikan yang berwujud mahalnya biaya pendidikan, ternyata para
kapitalis juga bergerilya menempuh jalan lain, jalan yang tidak mudah dikenali.
Ketika ada sebagian kecil orang miskin
yang berhasil menembus “mahalnya biaya pendidikan”-melalui beasiswa atau
mekanisme yang lain, kelompok kapitalis juga tidak tinggal diam. Mereka
menyusup melalui materi materi pelajaran. Dan tentu saja, strategi mereka tidak
mudah dan tidak akan pernah diketahui. BSE menjadi alat atau tangan kanan
kelompok kapitalis. Akibatnya orang-orang miskin akan selamanya menjadi objek
eksploitasi kapitalis. Posisi mereka tetap tidak diuntungkan dan semakin
tertindas.
BAB VII
PENUTUP
A.
Simpulan
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa sebagian besar kalimat dan gambar yang dimuat dalam BSE memuat habitus
kelas dominan (kelas atas). Ada beberapa mekanisme yang digunakan untuk
menyosialisasikan habitus kelas atas melalui BSE. Mekanisme tersebut adalah : pertama
menceritakan kebiasaan-kebiasaan kelas atas, misalnya : bertamasya, merayakan
ulang tahun, menonton televisi, membaca koran, bermain PS di rumah, mengikuti
les piano, serta mencuci mobil. Kedua memperlihatkan atau
menceritakan benda-benda yang biasa dimiliki kelas atas, misalnya : televisi,
kulkas, kitchen set, wastafel,
mobil-mobilan (tamiya), mobil mewah, garasi, vacuum cleaner, akuarium, serta rumah mewah. Ketiga menggambarkan profil atau ciri-ciri
kelas atas, misalnya : bekerja di kantor, memakai dasi, berangkat bekerja
dengan naik mobil, bekerja membawa koper dan bersepatu. Habitus-habitus
tersebut disajikan sebagai materi pengantar (apersepsi), cerita, dan soal
latihan.
Habitus kelas bawah yang
digambarkan dalam BSE jumlahnya sangat sedikit. Habitus kelas bawah digambarkan
dalam BSE melalui mekanisme : pertama menggambarkan karakter kelas
bawah, misalnya : bekerja di sawah, bekerja sebagai petani, nelayan, menggem bala,
tukang batu, serta pemulung. Kedua menceritakan aktivitas yang
biasa dilakukan individu dari kelas bawah, misalnya : membajak sawah,
menggembala, mencangkul, menanam padi, dan membantu orang tua mencari nafkah.
B.
Implikasi
BSE harus menyajikan materi
yang lebih netral atau seimbang. Netral
dalam arti, sebaiknya kalimat dan gambar ilustrasi yang digunakan untuk
memperjelas materi sedikit (atau bahkan tidak) mengandung bias kelas. Ketika
menjelaskan mengenai “denah” misalnya, dapat digambarkan rumah yang cukup
sederhana, tidak perlu menunjukkan gambar denah rumah yang sangat mewah. Rumah
yang digambarkan tidak perlu menggunakan garasi, karena sedikit sekali rumah
yang dilengkapi dengan garasi. Guru kelas dapat menambahkan garasi sebagai
contoh ketika kondisi siswanya memang sebagian besar berasal dari kelas atas.
Akan tetapi, hal ini menjadi sebuah hal yang tidak perlu ketika sebagian besar
siswa berasal dari kelas bawah, yang tentu saja rumah mereka tidak dilengkapi
garasi. Cerita dan gambar apersepsi dalam materi-materi pelajaran IPA dapat
menggunakan contoh binatang atau tumbuh-tumbuhan yang dekat dengan lingkungan
alam siswa, sehingga tidak perlu menggunakan ilustrasi atau cerita dengan latar
kebun binatang.
Seimbang dalam artii habitus kelas atas dan kelas bawah harus disajikan
secara proporsional agar habitus kelas atas tidak mendominasi kalimat atau
gambar-gambar di dalam BSE. Satu hal yang harus kita pahami adalah latar
belakang sosial dan ekonomi siswa sangat beragam, terutama untuk siswa SD.
Untuk itu, contoh-contoh dalam bentuk cerita dan gambar seharusnya
mengakomodasi keberagaman latar belakang tersebut. bukanlah sebuah langkah yang
bijaksana itu ketika BSE lebih banyak “menampilkan” budaya-budaya kelas atas sebagai
contoh dalam penyampaian materi pelajaran. Budaya-budaya kelas atas harus
ditampilkan secara proporsional tanpa harus mendiskriminasikan posisi mereka
dalam sistem sosial. Ada banyak budaya-budaya kelas bawah yang patut mendapat
apresiasi di balik berbagai kekurangan yang dialami masyarakat kelas bawah,
misalnya : sederhana dan hemat. Nilai-nilai inilah yang dapat dikembangkan dari
sebuah cerita mengenai kehidupan kelas bawah, sehingga tidak selamanya kelas
bawah harus diidentikkan dengan kehidupan yang serba kekurangan, kotor, kasar,
hitam, dan sebagainya.





Komentar
Posting Komentar